BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS

Kamis, 22 April 2010

Ikan Buntal ..... Nikmat, Sekaligus Pembawa Maut.


Ikan Buntal, sekilas mendengar namanya akan terpikir dikepala kita sosok seekor ikan yang gendut, dan berbadan buntal. Di Jepang, negara yang menggemari masakan ikan mentah, ikan ini cukup digemari karena kelezatannya. Namun bukan tanpa resiko loch untuk mengkonsumsi ikan ini, salah-salah justru berakibat kematian. Kok bisa?? Berikut ini adalah ulasannya.

Secara turun-temurun, sushi telah digemari di seantero Jepang. Sushi adalah irisan ikan mentah atau udang rebus yang diletakkan di atas nasi dicampur sedikit cuka dan telah dicetak berbentuk massa yang padat. Makanan berbasis ikan lainnya yang sangat terkenal adalah sashimi. Sashimi dibuat dari irisan tipis berbagai jenis ikan, cumi, dan rumput laut dalam keadaan mentah. Sashimi paling enak adalah yang dibuat dari ikan sangat segar. Bila perlu ikan baru dibunuh hanya beberapa saat sebelum dihidangkan. Jenis ikan yang paling populer untuk sashimi adalah tuna berdaging merah. Selain ikan kakap merah, yang umumnya digunakan sebagai bahan sashimi adalah ikan buntal (Fugu rubripes).

Sebenarnya daging ikan buntal sendiri tidak berbahaya ataupun beracun justru bagi para peminatnya daging ikan buntal memiliki rasa yang khas dan kenikmatan tersendiri. Rasa ikan buntal lezat, gurih agak manis, tidak kalah jika dibandingkan dengan ikan salmon. Adapun bagian yang paling beracun dari fugu adalah hati, telur, dan saluran pencernaannya. Hanya saja, bila pada saat pengolahan terkontaminasi oleh bagian organ dalam yang pecah, daging menjadi sangat beracun dan mematikan.

Racun yang terkadung pada bagian dalam ikan buntal ini disebut Tetrodotoksin (TTX). Dosis mematikan racun ikan buntal bagi manusia diperkirakan 2 mg TTX. Racun ini sangat mematikan dan akan bereaksi pada korbannya hanya dalam waktu kurang dari setengah jam.

Gejala keracunan TTX ini, akan diawali oleh rasa mual, muntah2, mati rasa dalam rongga mulut, selanjutnya mucul gangguan fungsi saraf yang ditandai dengan rasa gatal di bibir, kaki dan tangan. Gejala selanjutnya adalah terjadinya kelumpuhan dan kematian akibat sulit bernafas dan serangan jantung. Gejala tersebut timbul selama 10 menit pertama hingga 30 menit dan setelah itu akan menimbulkan kematian.

Lantas mengapa ikan buntal ini sendiri mampu bertahan hidup meskipun memiliki kandungan racun yang mematikan di dalam tubuhnya ?

Para peneliti dari Institute of Molecular and Cell Biology (IMCB) dan National University of Singapore (NUS) bahkan menunjukkan bahwa ikan buntal menggunakan racun tersebut. Racun tetrodotoxin yang 20 kali lipat lebih mematikan daripada sianida ini digunakannya untuk membantu proses perkembangbiakan dan menghindari pemangsa.

Melalui proses yang disebut adaptasi evolusi, ia menjadi kebal terhadap racun tetrodotoxin yang berasal dari sesuatu yang dimakannya, khususnya dari makhluk hidup laut yang terkontaminasi racun.

Mengingat resiko yang tinggi jika ikan ini salah dalam pengolahannya, maka di Jepang hanya koki-koki yang memiliki sertifikat dari Departemen Kesehatan lah yang diizinkan untuk mengolah ikan buntal ini untuk dikonsumsi umum. Sehingga di Jepang, menu masakan yang mengandung ikan buntal harganya cukup mahal. Di sebuah restoran di Osaka menjual menu ikan buntalnya dengan harga 10.500 yen atau sekitar Rp 840.000.

Ayo siapa yang ingin mencobanya?? Tapi kalau di Indonesia, sebaiknya Anda berhati-hati, sebab belum ada sertifikasi koki yang menjamin ikan buntal tersebut dimasak oleh ahlinya. (oe-mee)

0 komentar: